• Home
  • Tentang saya
  • Makalah Pendidikan
    • RAPBS
    • Fungsi Pembiayaan
    • Akuntasi Pendidikan
  • Tulisan Syahrul
  • Kegiatan Harian
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram Email

Syahrul Padilah




TUGAS NO.               : 01
JENIS                          : Individual
MATA KULIAH        :  Manajemen Teknologi Pendidikan
PRODI                        :  S2 Administrasi Pendidikan
DOSEN PENGAMPU:  Dr. Nurpit Junus, MM, CTQMP

Create E-Mail Address dan CV
1.     Kirimkan e-mail ke saya: nurpitjunus@gmail.com. (create e-mail address kalau Anda belum punya e-mail).
2.     Isi e-mail tersebut adalah CV anda. Format-nya sebagai berikut:
a.     Nama Lengkap                  : Syahrul Padilah,S.Pd
b.     NIM                                  : 1910247790
c.     Pendidikan Terakhir         : S1 Pendidikan Bahasa Inggris, UNRI
d.     Pekerjaan                          :  Kepala SMP Juara Pekanbaru
e.     Alamat                             
Tempat Tinggal                : Jl. Melati 1 Perum CDS Block C No. 10 Pekanbaru
E-mail                               : psyahrul@gmail.com
Facebook                          : https://www.facebook.com/syahrul.padilah11   
Twitter                              : @syahrulpdh
Blog                                  : https://syahrulgurupendidikan.blogspot.com/#
Instagram                          : syahrulpadilah
Website                             : -
WA                                   : 085265603870
HP                                     : 085265603870
Komputer Literasi             : Level 3
Note * :
Level 1, Mampu menghidup dan mematikan laptop, atau software O/O.
Level 2, Mampu mengoperasikan Microsoft Word (Word Start, atau Word Perfect).
Level 3, Mampu mengoperasikan  Word, Excel, dan Power Point.
Level 4, Level 3 plus Access, dan Data Base  
Level 5, Level 4 plus mampu membuat suatu program.  

h. Format CV sebagai contoh yang diberikan.
i. Tugas ini sudah sampai ke e-mail saya paling lambat, Jumat, 25-04-2020, jam 8:00 Wib.
k.  Kerjakanlah setiap tugas individual dan kelompok dengan semangat dan penuh rasa
    tanggungjawab.

Good Luck!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar


TUGAS NO.               : 01
JENIS                          : Individual
MATA KULIAH         :  Manajemen Teknologi Pendidikan
PRODI                        :  S2 Administrasi Pendidikan
DOSEN PENGAMPU:  Dr. Nurpit Junus, MM, CTQMP

Create E-Mail Address dan CV
1.     Kirimkan e-mail ke saya : nurpitjunus@gmail.com. (create e-mail address kalau Anda belum punya e-mail).
2.     Isi e-mail tersebut adalah CV anda. Format-nya sebagai berikut:
a.     Nama Lengkap                  : Syahrul Padilah,S.Pd
b.     NIM                                  : 1910247790
c.     Pendidikan Terakhir          : S1 Pendidikan Bahasa Inggris, UNRI
d.     Pekerjaan                          :  Kepala SMP Juara Pekanbaru
e.     Alamat                             
Tempat Tinggal                : Jl. Melati 1 Perum CDS Block C No. 10 Pekanbaru
E-mail                               : psyahrul@gmail.com
Facebook                          : https://www.facebook.com/syahrul.padilah11   
Twitter                              : @syahrulpdh
Blog                                  : https://syahrulgurupendidikan.blogspot.com/#
Instagram                          : syahrulpadilah
Website                             : -
WA                                   : 085265603870
HP                                     : 085265603870
Komputer Literasi             : Level 3
Note * :
Level 1, Mampu menghidup dan mematikan laptop, atau software O/O.
Level 2, Mampu mengoperasikan Microsoft Word (Word Start, atau Word Perfect).
Level 3, Mampu mengoperasikan  Word, Excel, dan Power Point.
Level 4, Level 3 plus Access, dan Data Base  
Level 5, Level 4 plus mampu membuat suatu program.  


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Dewasa ini perubahan paradigma pendidikan yang paradigmatik kian gencar di selenggarakan guna mengatasi problem dasar yang menerpa bangsa ini yang dikenal memiliki karakteristik keindonesian yang bersifat ramah, memiliki tenggang rasa yang tinggi, kesopanan, rendah hati, suka menolong, dan solidaritasn atar sesama yang menjadi jati diri bangsa yang telah melekat berabad-abad lamanya. Namun sangat disayangkan hal ini telah terkikis habis oleh penetrasi budaya yang menghantam bak tsunami yang meluluhlantakkan jati diri yang melekat itu pada setiap insan bangsa ini. Bahkan, hal ini di perparah dengan terjadinya pendangkalan aqidah dan pemahaman moralitas dan mentalitas sehinga efek domino dari semua ini bisa di saksikan dalam perjalan bangsa ini.
Tentunya hal ini menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan. Dan penyelenggaraan sistem pendidikan terpadu menjadi pilihan ditengah maraknya penetrasi budaya yang ada. Sistem pendidikan tepadu kini telah muncul menajdi ikon pendidikan yang dilembagakan. Dengan kata lain dimensi pendidikan dengan sistem terpadu adalah pilihan yang diperhatikan dalam rangka membangkitkan moralitas sebagai suatu sistem nilai adat ketimuran dan keindonesian. Meningkatkan kecerdasan anak dan siswa tentunya menjadi harapan setiap guru dan orangtua. Namun perlu di pahami bahwa kecerdasan itu bukan hanya sebatas kecerdasan secara intelektual, misalnya siswa atau anak dikatakan cerdas apabila selalu meraih ranking teratas dikelas dan selalu memenangkan lomba yang mengacu kepada kecerdasan intelektual semata. Bahkan kebayakan orang tua akan bangga jika anaknya mampu meraih prestasi disatu sisi bidang akademik, bersekolah disekolah yang prestatatif dan representatif, hingga bersekolah keluar negri. Dan akhirnya banyak diantara para orang tua mengeyampingkan proses pendalaman spiritual dan mentalitas anak sebagi bentuk pendidikan karakter anak.
Seperti yang terungkap dalam sebuah seminar yang diliput oleh Riau Pos (5/2/08). Ada orang tua yang menginginkan anaknya untuk prestasi secara akademik, hingga orang tuanya mencari sekolah prestatif kemudian memasukkan anaknya untuk mengikuti program belajar tambahan di berbagai macam bidang studi atau pelajaran. Secara kasat mata dapat dilihat perkembangan sianak dengan meraih prestasi akademik yang luar biasa, namun akhirnya siswa tersebut terkena penyakit yang diakibatkan stress yaitu mag yang akut. Kalau sudah seperti ini kejadiannya, apa yang bisa diharapkan selanjutnya?

Pendidikan Karakter
Pendidikan masa depan adalah pendidikan yang memiliki orientasi  kecerdasan majemuk yang lahir karena suka rela, tumbuh dari dalam dan bukan ancaman dan atau ketakutan karena sesuatu, dan juga tidak mengabaikan ketegasan dalam proses pendidikannya. Menurut Lickona (1992), pendidikan krakter yang benar harus melibatkan aspek "knowing the good" (moral knowing), ”desiring the good" atau "loving the good" (moral feeling), "acting the good" (moral action). Sebab tanpa melibatkan tiga aspek tersebut manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh suatu paham. Oleh karena itu, pendidikan karakter dituntut memberikan perhatian kepada tiga komponen karakter yang baik yaitu; Component of good character, yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang moral dan moral action atau perbuatan moral.
Dalam konsep integrated school (sekolah terpadu) pemahaman tiga komponen karakter ini menjadi bagian yang sudah menyatu dalam program pembelajarannya. Ditambahkan oleh Lickona, konteks karakter yang ada akan meliputi; moral awereness (kesadaran moral), knowing moral values (pengetahuan nilai-nilai moral), perspektif taking (menggunakan sudut pandang moral), dan self knowledge (pengetahuan diri). Sementara untuk pembentukan moral feeling meliputi enam aspek yang diperlukan untuk menjadi manusia yang memiliki karakter yaitu pertama conscience (kesadaran), kesadaran ini terkait dengan sikap mental manusia sebagai makhluk sosial, sehingga dengan ditumbuhkan rasa kesadaran seseorang, maka seseorang akan menemukan sikap mental yang baik, misal seseorang tidak akan lagi segan untuk membantu orang lain, hal ini dikarenaka seseorang memahami secara sadar bahwa ia adalah bagian dari orang lain yang suatu saat memerlukan orang lain. Dan ketika kesadaran ini telah tumbuh maka untuk berbuat dan besikap yang menjunjung nilai kemanusian sekaligus sebagai makhluk tuhan tidak lagi sulit untuk melaksanakannya. Sebagai mana pepatah mengatakan bahwa barang siapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal siapa Tuhannya. Kedua,  self-esteem (kepercayaan diri). Aspek yang kedua ini terkait dengan pengaruh psikologi seseorang untuk mempercayai dirinya yang mengarahkan seseorang untuk bersikap think fresh do the best. Model manusia itu tebentuk dari masa ia masih kanak-kanak, jika sedari kanak-kanak sudah ditempa untuk percaya diri dengan berbagai model pembelajaran dan tumbuh karena kesadaran, ini akan menjadi sistem nilai dan prinsip bagi sianak dan tentunya akan berbeda jika kepecerdayan diri si anak di tumbuhkan dengan karena keterpaksaan, misalnya jika ia tidak maju atau melakukan sesuatu maka ia akan dihukum. Ketiga empathy (merasakan penderitaan orang lain), sikap seperti ini sudah menjadi pelajaran yang lama, bahkan sewaktu kita dulu masih bersekolah di sekolah dasar dengan nama pelajaran Pendidikan Moral Pancasila, namun sangat disayangkan nilai-nilai yang diajarkan tidak melekat dalam sistem nilai hidup bangsa ini. Dengan mencoba menumbuhkan kesadaran dan kepercayaan diri maka akan ada efek yang tumbuh bahwa ada integrasi antara seseorang dengan orang lain yang ketika ada orang lain yang menderita perasaan itu dengan sendirinya akan tumbuh secara sadar. Keempat loving the good  (cinta kepada kebaikan) mencintai kebaikan senatiasa harus mutlak ditumbuhkan. Dengan disentuhnya perasaan dengan menamkan nilai yang mentranspormasi pemahaman tentang berbuat kebaikan akan menumbuhkan aspek afeksi seseorang. Kelima self kontrol (kontrol diri) dalam kontek ini ada arahan untuk bagaimana setiap kita mengarahkan sikap diri dalam berbagai tindakan. Keenam humanility (kerendahan hati). Rendah hati merupakan aspek penting yang perlu mendapatkan porsi penekanan dalam sikap diri seseorang.

Komitmen Kolektif
School are born from, live within and are committed to the community. Slogan ini menegaskan kepada kita semua bahwa komunitas masyarakat termasuk didalamnya adalah orangtua yang mempunyai peran strategis dalam mendukung program sekolah ataupun pendidikan. Proses dari apa yang direncanakan oleh para orang tua dan guru haruslah menjadi komitmen kolektif, artinya harus ada political will dari orang tua dan guru dalam mewujudkan cita-cita pembentukan para perserta didik. Sangatlah tidak etis ketika keinginan itu tidak dibarengi oleh usaha bersama oleh orang tua dan guru. Ditengah-tengah masyarakat kebanyakan, telah menjadi memori kolektif bahwa yang bertugas menciptakan keberhasilan siswa adalah peran dan tugas serta tanggung jawab guru dan sekolah, sementara orang tua cukup melakukan evaluasi terhadap tingkat keberhasilan siswa.
Seharusnya dengan adanya berbagai sorotan tehadap berbagai persoalan pendidikan dan para siswa, seyogyanya menggugah komitmen bersama untuk memberikan nilai edukasi dalam berbagai aspek secara masimal guna pewujudan harapan yang ada. Selain lembaga sekolah yang dituntut secara proakif melakukan transformasi bagi para siswa, orangtua sebagai stakeholder juga diharapkan dapat memberikan informasi dalam rangka pemutakhiran program pendidikan.
Terkait dengan orangtua, Rohner ahli psikologi pendidikan mengatakan bahwa seorang anak memiliki prilaku baik atau buruk didasarkan atas cara pengasuhan yang diberikan ibunya, anak-anak yang diasuh dengan cara diterima (acceptance) akan menjadi anak yang tumbuh dan berkembang lebih baik ketimbang anak yan diasuh dengan cara ditolak (rejected).
Atas dasar landasan inilah, maka diperlukan kesadasaran dan komitmen kolektif unsur-unsur dan para stakeholder untuk menciptakan rangkaian pendidikan yang sistemik bukan linear. Sehingga upaya terobosan apapun yan dilakuakan atau ditelurkan dalam dunia pendidikan anak berpengaruh optimal dan akan ada timbal balik tentunya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pendidikan Untuk Masa Depan
(Sebuah pandangan untuk pengelolaan pendidikan formal Indonesia Juara)


Pendidikan adalah sebuah wilayah yang harus mendapat perhatian khusus dan komprehensif. Bukan karena sekedar ini dibutuhkan untuk melengkapai struktur perjalanan sebuah bangsa atau peradaban tapi jauh dari itu pendidikan harus mendarah daging dalam sendi kehidupan dengan seluruh aspek yang melekat padanya. Oleh karena itu, negara yang maju adalah negara yang memberikan porsi perhatian yang cukup besar pada dunia pendidikan, karena dengan pendidikan inilah dimensi kehidapan itu akan tertata dengan rapi. Kalaulah kita mau melihat sejenak ke sebuah klub sepakbola internasional yang begitu luar biasa mendominasi persebakbolaan tidak hanya di kelas lokal namun juga pada tataran persebakbolaan internasional, klub itu adalah Barcelona FC. Melihat sedikit kebelang, kesuksesan bercelona bukan hasil yang diraih pada saat ini dan hadir begitu saja,tapi barcelona telah menyiapkan kesuksesan itu jauh jauh hari dengan cara membangun sarana pendidikan sepakbola dengan mendidik para pesebakbola muda sebagi iron stock yang dikemudian hari menjadi para pesebakbola profesional. Sekali lagi ini adalah bagaimana Barcelona FC begitu serius memperhatikan pendidikan dunia sepakbola sesuai kebutuhannya.

Dari contoh ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa kesuksesan sebuah bangsa dapat dilihat bagaimana pendidikan diperlakukan di negara itu. Ketika Rasulullah SAW, diutus oleh Allah SWT, tugas adalah bagaimana seluruh umat manusia bisa selamat dengan cara menghambakan diri kepada Allah dengan penghambaan yang sebenarnya. Tugas ini sekali lagi adalah bagaimana rasulullah mendidik umat manusia pada saat itu, dan pendidikan pertama kali yang sampaikan adalah bagaimana umat manusia itu mentuhidkan Allah SAW. Tentu, yang di sentuh oleh Rasullah SAW adalah ruang Afektif (akhlak) karena ini punya peran dalam domain kehidupan manusia.

Sekolah Unggul sama dengan sekolah efektif
Kebanyakan orang akan bertanya apasih sekolah unggul? Pada pendekatan konsep sekolah unggul akan muncul pendekatan yang senantiasa muncul dari setiap orang yang memandangnya. Diantara Konsep sekolah unggul yang muncul adalah Memandang luaran pendidikan yang unggul karena inputnya unggul, sekolah akan merekrut siswanya dengan mengetes calon peserta didiknya mereka yang lulus dengan standar yang diharapkanlah yang akan lulus. Sekolah berpandangan bahwadengan input yang unggul akan memudahkan para tenaga pendidik dalam mengarahkan siswanya dengan berbagai pendekatan untuk mencapai targetan tertentu. Pendekatan sekolah unggul dengan konsep ini akan berakhir dengan tidak memberikan ruang kepada siswa yang dianggap tidak unggul dari segi akademik. Pendekatan kedua adalah dengan mengabaikan input tetapi melakukan proses management dan outputnya adalah siswa berprestesi. Pada pendekatan konsep ini, semua calon peserta didik punya kesempatan yang sama.
Dan Indonesia Juara selaku pemain dalam dunia pendidikan yang telah memiliki 11 sekolah dasar dan 2 Sekolah Menengah pertama yang dinamai sekolah juara yang mengdepankan keunggulan dalam pengelolaan pendidikannya mengambil pendekatan konsep sekolah unggul yang kedua, yaitu mengabaikan input tetapi lebih menitik tekankan pada proses, dalam hal ini dapat di gambarkan dengan bagan berikut:



Sudah menjadi tradisi bagi Sekolah Juara dalam penerimaan peserta didik baru, dimana sekolah juara tidak melakukan alat ukur pendekatan akademik apapun dalam penerimaan siswanya. Artinya setiap calon peserta didik mempunyai kesempatan yang sama untuk diterima dengan klasifikasi Mustahik (dhuafa, anak yatim, piatu dan yatim piatu). Proses penerimaan peserta didiknyapun  sangat sederhana, setelah calon peserta didik mendaftar dengan membawa persyaratan umum seperti fotokopi KTP dan KK serta Surat Keterangan Tidak Mampu, maka calon peserta didik sudah terdaftar untuk dilanjutkan ke proses kedua yaitu survey untuk memastikan kelayakan masuk kategori klasfikasi penerima manfaat. Setelah survey selesai dan dibahas di forum sekolah, maka pengumuman akan dikeluarkan siapa yang akan menjadi peserta didik di sekolah juara.
Selain pada penerimaan peserta didik diatas, keunggulan sekolah juara ditunjukkan dari jumlah peserta didik dalam tiap kelasnya. Peserta didik dalam rombongan belajar atau kelas hanya 25 peserta didik saja, selain untuk memudahkan proses pemantauan peserta didik konsep kelas kecil ini memudahkan pembimbingan dan pelayan terhadapa setiap peserta didik.
Proses diatas adalah proses awal, yang menjadi starting point untuk proses selanjutnya, proses yang membutuhkan energi besar untuk memastikan dengan input yang ada di konversi dengan out put keunggulan mutu, relevansi dan daya saing. Untuk menghasilkan output yang unggul maka sangat dibutuhkan manajemen pengeloaan berbasis mutu yang efektif dari semua stake holdernya.
Manajemen pengelolaan sekolah berbasis mutu yang efektif setidaknya akan mengarahkan setiap sekolah pada arahan sebagai berikut:
1.    KEPEMIMPINAN YANG PROFESIONAL (Professional Leadership)
    Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam suatu organisai karena sebagian besar keberhasilan dan kegagalan suatu organisasi ditentukan oleh kepemimpinan dalam organisasi tersebut. Pentingnya kepemimipinan seperti yang dikemukakan oleh James M. Black pada Manajemem: a Guide to Executive Command dalam Sadili Samsudin (2006:287) yang dimaksud dengan “Kepemimpinan adalah kemampuan meyakinkan dan menggerakkan orang lain agar mau bekerja sama di bawah kepemimpinannya sebagai suatu tim untuk mencapai suatu tujuan tertentu”.
    Dalam Konsep sekolah unggul menekankan pentingnya pemimpin yang tangguh dalam mengelola sekolah. Sekolah yang berpenampilan unggul atau sekolah yang efektif menggunakan strategi peningkatan budaya kerja, strategi pengembangan kesempatan belajar, strategi memelihara kendali mutu, strategi penggunaan kekuasaan, serta penggunaan dan informasi secara efisien.

2.    VISI DAN TUJUAN BERSAMA (Shared Vision and Goals)
Seperti yang dalam sebuah ungkapan ”Seseorang tidak akan bisa memimpin individu-individu tanpa bisa membangun kejelasan masa depan bagi mereka. Sebab pemimpin adalah penjelas masa depan” (Napoleon). Untuk itu sangat penting adanya visi dan tujuan bersama, Tujuan lembaga pendidikan merupakan pernyataan tentang keinginan yang akan dijadikan pedoman bagi manajemen lembaga pendidikan untuk meraih hasil tertentu atas kegiatan yang dilakukan dengan dimensi waktu tertentu.
Dan visi ini harus ditetapkan secara bersama dengan melibatkan seluruh anggota organisasi untuk memberikan partisipasi (sharing) secara maksimal sesuai dengan kemampuannya. Menumbuhkan sikap rasa memiliki (sense of belongingness) mengenai misi yang akan dirumuskan bersama. Sehingga dalam proses perjalanannya tidak menimbulkan conflik of interest yang berdampak pada goyahnya manajemen dalam mewujudkan cita cita dari visi dan tujuan bersama yang ada.

3.    LINGKUNGAN BELAJAR (a Learning Environment)
Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh peserta didik secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.
Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya.

4.    PENGAJARAN YANG PENUH MAKNA (Purposeful Teaching)
Ery soekresno dalam artikelnya “Membangun Karakter Anak untuk Menunjang Pembelajaran Penuh Makna” ia menyebutkan Belajar Penuh Makna diperlukan karena otak tidak akan dapat mengingat hafalan. Belajar penuh makna akan bertahan di ingatan jangka panjang selama bertahun-tahun. Pelajaran bermakna akan masih dapat diingat oleh anak sampai ia dewasa.
Dengan demikian sangat jelas bahwa pengajaran penuh makna akan masuk kedalam memori jangka panjang (long term memory) setiap peserta didik. Pengajaran penuh makna adalah Belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak, belajar konsep, belajar yang konkrit, belajar yang seluruh indera anak terlibat, menemukan sendiri pemahamannya. Proses belajar tidak lagi hanya sekedar menghafal konsep konsep atau fakta fakta belaka, tetai merupakan kegiatan menghubungkan konsep konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehingga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak memudah dilupakan. Dalam proses pendekatannya akan terjadi yang namanya learn how to learn.
5.    ORGANISASI PEMBELAJAR (a Learning Organization)
Organisasi pembelajar adalah pengembangan kapasitas organisasi untuk terus belajar, beradaptasi dan berubah. Perbedaan antara organisasi pembelajar dengan organisasi tradisional disajikan sebagaimana tabel berikut.

Variable    Organisasi Tradisional    Organisasi Pembelajar
Sikap Terhadap Perubahan    Jika hal itu dapat dikerjakan, mengapa dirubah?    Jika kamu tidak berubah,kamu tidak akan bekerja dalam waktu yang lama
Sikap terhadap ide-ide baru    Tertutup dengan ide-ide baru dari luar    Terbuka dengan ide-ide baru dari luar
Penanggung jawab inovasi    Bagian Penelitian dan Pengembangan    Setiap orang didalam organisasi
Ketakutan Utama    Membuat kesalahan    Tidak belajar, tidak akan dapat beradaptasi
Daya saing    Produk dan Layanan    Kemampuan untuk belajar, ilmu pengetahuan dan keahlihan
Pekerjaan manajer    Mengontrol yang lain    Mengijinkan yang lain

Dalam dunia pendidikan, konsep organisasi pembelajar harus terus dikembangkan, apalagi bagi sekolah yang mempunyai tahapan cita cita tujuan yang terangkum dalam rencana jangka pedek menegah dan panjang. Kondisi dalam setiap tahapan butuh energi besar karena memang tantangan setiap tahap akan berbeda dan semakin besar.
Sekolah dapat dikatakan sebagai organisasi pembelajar jika sekolah tersebut memiliki ciri; 1) sekolah tersebut memberikan kesempatan dan mendorong setiap individu yang ada dalam sekolah tersebut untuk terus belajar dan memperluas kapasitas dirinya, dan 2) sekolah tersebut merupakan organisasi yang siap menghadapi perubahan dengan mengelola perubahan itu sendiri (managing change).

6.    KEMITRAAN KELUARGA-SEKOLAH (Home-School Partnership).
Partisipasi warga negara adalah hal mendasar dalam demokrasi, dan hal inilah yang menjadi landasan pelibatan orangtua dan masyarakat dalam pendidikan. Demokrasi itu sendiri adalah bentuk tata kelola sistem atau pemerintahan yang memberikan ruang bagi setiap individu baik langsung maupun melalui perwakilan untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan yang kelak mempengaruhi hidupnya (Grant, 1979: 117).
Dalam dunia pendidikan terkhusus bagi sekolah, terciptanya kemitraan keluarga dan sekolah merupakan siklus yang mesti ada, karena keberadaan kemitraannya bersifat tetap selama peserta didiknya bersekolah di sekolah tersebut, seperti tergambar dalam bagan berikut:

Pola kemitraan  antara sekolah dan keluarga yang dilakukan keduanya itu berlangsung secara alamiah dan berkesinambungan sehingga dapat menyatukan langkah dalam mendidik putra-putri bangsa Indonsia. Penciptaan suasana yang kondusif bagi pendidikan nilai, baik di sekolah maupun di rumah tampaknya merupakan salah satu bentuk kemitraan yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Selain sifat kemitraannya, dalam dunia pendidikan, sekolah dan keluarga merupakan dua ruang pengaruh yang apabila tidak terkelola dengan baik akan diterjadi pergesekan. Pengelolan yang baik memunculkan sinergisitas yang positif dimana keduanya saling mendukung dan menghasilkan para peserta didik yang memiliki mental juara.
Dari keenam manajemen pengelolaan sekolah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa, sekolah juara yang merupakan program pendidikan formal Indonesia Juara harus melakukan proses percepatan dalam implementasi keenam manajemen tersebut. Tantangan pasti akan muncul, mulai dari banyak sekolah juara yang belum memiliko gadung sendiri hingga masih terbatasnya kapasitas SDM dalam pengelolaan sekolah dengan manajemen keunggulan. Namun demikian bukan berarti tidak ada peluang untuk bisa mengimplementasikannya guna menuju sekolah unggulan. Dan semuanya harus terawal dari niat baik dan pola komunikasi yang intensif antar stake holder, selain tentunya turunan berikutnya adalah rancangan programnya.

Semoga terwujud.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Seiring perjalanan waktu dan perkembangan manusia bahkan sampai dunia ini kiamat, pendidikan adalah instrument yang dinamis dalam mengiringi perjalanan hidup manusia. Hal ini bisa kita lihat dari proses perjalanan hidup manusai, mulai dari Nabi Adam hingga kita saat ini, termasuklah didalamnya perkembangan peradaban manusia di bumi nusantara ini. Manusia mulai belajar dari bagaimana mana mereka mempertahankan hidup, ini tergambar seperti mereka mengumpulkan makanan (food gathering), pada pekembangan selanjutnya manusia yang hidup pada saat itu mulai berfikir kalau model dan prilaku hidup mereka terus mengandalkan dari makanan yang mereka kumpulkan maka, hal itu dikhawatirkan akan mengancam keberlangsung hidup mereka.

Maka dimulailah fase baru dari kehidupan mereka, dimulai dengan memanfaatkan benda yang ada di sekitar mereka seperti batu, dengan bebekal batu inilah mereka mulai mengembangkan cocok tanam (farming) dengan cara menebang pohon kayu untuk selanjutnya memanfaatkan lahan yang ada tersebut untuk bercocok tanam. Secara sederhana kita bisa asumsikan bahwa itu terjadi karena adanya perkembangan pemikiran otak bawah alam sadar mereka untuk mempertahankan hidup. Artinya ada proses pembelajaran yang terjadi dalam perjalan hidup mereka yang diperoleh dari pengalaman.

Bapak pendidikan nasional Kihajar Dewantara sebagaimana dikutif oleh Imam Burnadif dalam bukunya filsafat pendidikan menjelaskan bahwa masyarakat yang layak bagi terselenggaranya kehidupan dan pergaulan yang wajar adalah masyarakat yang tertib, damai, sejahtera, selamat dan bahagia. Dan pendidikan dalam konteks ini memiliki legitimasi yang kokoh dalam menciptakan kondisi masyarakat yang layak tersebut. Persoalan yang muncul dari ungkapan kihajar yang penuh makna itu adalah apakah Indonesia sudah memasuki tahap kelayakan tersebut dengan model pendidikan nasional saat ini, jawabannya tentu ada pada kita semua. Kita bisa lihat dan saksikan, negri ini memiliki begitu banyak ekonom dan profesor handal di bidang ekonomi yang tentunya paham betul bagaimana persoalan ekonomi nasional baik dari sektor makro maupun mikro. Tidak hanya itu lembaga-lembaga ekonomi yang bersifat non government organization-pun bermunculan yang juga diisi oleh para ekonom handal. Tapi toh pada kenyataannya perekonomian nasional kita tidak juga kunjung membaik. Kalaupun ada perbaikan itu lebih mengacu pada skala makro sementara skala mikro (persoalan perekonomian masyarakat kecil) seakan masih jauh dari sentuhan-sentuhan perbaikan, lantas dimanakah letak persoalannya?.


Perkembangan pendidikan

Marilah sejenak kita mengambil hikmah dari sejarah, kita semua mungkin kenal dengan  kaisar Jepang ke 122 yaitu Meiji. Tenno meiji (kaisar Meiji) yang ketika dinobatkan mejadi kaisar tengah berusia 16 tahun, sungguh usia yang belia, tetapi seluruh dunia mengenalnya. Disaat beliau menjadi kaisar era modernitas Jepang mulai dibuka dan semua gerakan Meiji ini dikenal dengan istilah Restorasi meiji. Dimulailah proses reformasi dengan pendidikan sebagai mata tombak. Pendidikan
menjadi hak dan kewajiban semua warga. Kemudian, reformasi itu yang disebut restorasi, sejak itu restorasi Jepang itu disebut dengan Restorasi Meiji. Restorasi Jepang itu berjalan sangat cepat dan efisien tahun 1853. Menjelang akhir abad ke 19 Jepang sudah berhasil menjadi kekuatan militer dengan angkatan laut yang sangat tangguh sehingga dapat mengalahkan secara mutlak armada raksasa Rusia di Selat Tsushima, menyapu bersih kepulauan Sachalin, mengambil Korea dan Semenanjung Liau-Tung dari Rusia, serta Port Arthur dan Dairen (Wells, 1951). Meiji begitu sangat mengagumkan dan menyanjung tinggi nilai pendidikan dan juga guru (sense), ditambah lagi memang adanya budaya pembelajar dari bangsa Jepang. Para aktor  yang sangat gigih memperjuangkan reformasi itu berjumlah tidak lebih dari 100 orang muda yang cerdas dan berdedikasi tinggi. Titik berat dari proses restorasi itu adalah di bidang pendidikan. Banyak sekali pemuda Jepang dikirimkan ke luar negeri dan Jepang banyak mengambil sistem Jerman dalam segala proses kehidupannya.

Di negri ini terkhusus pada masa Orde Baru di bawah kepemimpinan soeharto yang memimpin selama 32 tahun, pada kurun waktu itu Indonesia seakan menemukan ruh (spirit) dalam proses pembangunan dan indonesia muncul sebagai macan Asia yang disegani di kawasan Asia tenggara. Namun tampak depan tidak seperti tampak belakang, pondasi pembangunan Indonesia yang dibangun selama 32 tahun seakan keropos hanya dengan terjangan reformasi dan krisis ekonomi. Tidak hanya indonesia, pada saat yang bersamaan beberapa negara di Asia juga mengalami persoalan yang sama yaitu terjangan dan himpitan krisis ekonomi diantaranya adalah Korea Selatan. Tidak perlu berlama-lama, Korea langsung bangkit dari keterpurukan hantaman krisis ekonomi dan terbukti Korea Selatan langsung bangkit dan mampu menyelesaikan pesoalannya, sementara bangsa kita sampai hari ini masih berkutat pada persoalan itu. Kalaulah kita tarik benang merahnya, maka kita bisa menyimpulkan dari apa yang terjadi di jepang dan Korea Selatan, semata-mata ada pada penempatan pendidikan di posisi yang pas.

Perjalanan pendidikan dibumi nusantara ini begitu sangat menyisakan sejuta tanya, contoh sederhananya adalah Malaysia yang dulu banyak yang menuntut ilmu di negri ini namun kemudian menjadi guru, dibuktikan dengan tingginya minat pelajar negri ini untuk belajar disana namun tidak sebaliknya, selain faktor yang tentunya adalah kamajuan dibidang pendidikan. Tragisnya, dalam semangat pembangunan lintas sektoral, sektor pendidikan merupakan lahan yang terabaikan. Hasil dari pengabaian yang berkesinambungan itu adalah terdaftarnya negara kita pada penelitian UNDP mengenai Human Development Index (Indeks Sumberdaya Manusia) dalam urutan ke 109 dari 117 negara dunia

Saat ini, begitu banyak bermunculan metode pembelajaran dan yang terkenal itu adalah metode active learning. Namun demikian apapun metode yang diajarkan, adalah bagian dari strategi perbaikan pendidikan. Ketika penyelenggaraan pendidikan yang terpenting adalah bagaimana penyelenggaraan menyentuh pertama, memaksimalkan ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik secara proporsional sebagai bekal peserta didik untuk mencapai kemandiriannya. Kedua, penumbuhan sistem nilai dalam diri sebagai bekal sarana agar peserta didik mampu menjadi pribadi unggul dan mampu manatap lingkungan sekitarnya sebagai tempat ruang berinteraksi dan mengimplementasikan nilai-nilai yang diperoleh dari sistem pendidikan.

Dengan mengacu kepada kedua acuan yang sebutkan diatas, maka pendidikan akan masuk pada fase mikro dalam menyikapi sorotan persoalan pendidikan sebagai bentuk peralihan dari extended orientation.

Dari itu semua, pemaknaan yang perlu ditumbuhkan dari dunia pendidikan adalah bagaimana kita semua memandang pendidikan dari perspektif rasional kita. Pendidikan bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek yang mereka temukan dengan keadaan proses berfikir mereka. Maka dipelukan kaitan yang bermakna, melakukan pekerjaaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang teatur dan diatur sendiri, berfikir kreatif dan kritis serta mampu menempatkan nilai diri sebagai prinsip hidup dalam tataran normatif dan aplikasi. Karena keberadaan perserta didik merupakan bagian dari masyarakat baik dalam skala makro maupun mikro, dan keberadaannya juga selalu dilingkupi oleh nilai-nilai dan norma-norma. Kemudian  perserta didik yang hadir didalamnya akan mengalami kontinuitas, maka disini jugalah peranan pendidikan menjadi ruh pembentukan pribadi, pribadi yang berfikir global bertindak local think globally act locally. Sebagai bentuk kesimpulan mari kita lihat ungkapan dari Alfred North Whitehad (1929), pentingnya pengetahuan terletak pada kegunaannya, pada penguasaan kita terhadap pengetahuan itu. Dengan kata lain, terletak pada kearifan, kearifan adalah suatu yang berurusan dengan penanganan pengetahuan, pemilihan pengetahuan untuk menetapkan hal-hal yang relevan, dan penerapannya untuk nilai dari pengalaman langsung.


*) Penulis adalah peminat pendidikandan Guru SMP Juara Pekanbaru
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

Tentang Saya

About Me

Saya merupakan seorang guru pembelajar.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube

Categories

  • akuntansipendidikan
  • Breakevent
  • Makalah pendidikan
  • pemanfaatan ICT
  • Produksi dan fungsi biaya
  • RAPBS
  • Sumber penerimaan
  • TUGAS SISWA
  • Tulisan Syahrul

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • Juni 2020 (1)
  • Mei 2020 (1)
  • April 2020 (17)

Created with by ThemeXpose