ANALISIS NILAI PENDIDIKAN SEBAGAI SOCIAL INVESTMENT & PRIVATE INVESMENT

by - April 29, 2020


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Selama ini, kebutuhan belajar selalu diidentikkan dengan bersekolah. Sekolah dipandang oleh sebagian besar masyarakat sebagai satu-satunya lembaga yang sah untuk memberikan pelayanan pendidikan yang layak. Akibatnya, masyarakat menjadi sangat tergantung terhadap sekolah, yang pada akhirnya membawa perubahan pada orientasi sekolah sebagai lembaga pendidikan menjadi sebuah lembaga bisnis. Sebagai konsekuensi dari lembaga bisnis, akhirnya sekolah berlomba-lomba menarik konsumen dengan memberikan pelayanan yang terbaik dalam bentuk fasilitas, sarana belajar, dan manajemen pengelolaan yang memanjakan konsumen. Tujuannya tidak lain yaitu memberikan kepuasan pelayanan pada pelanggan, yaitu orang-orang yang mampu membeli jasa lebih. Akibat lebih jauh dari sistem pendidikan ini pembiayaan pendidikan menjadi semakin mahal dan tidak terkontrol.
Mengacu kepada pasal 31 UUD 1945 sebagai landasan operasional sistem pendidikan nasional, dimana tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran, pemerintah menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang diatur dengan undang-undang. Hal ini merupakan komitmen pemerintah untuk memberikan peluang yang sama kepada masyarakat untuk mendapatkan pengajaran yang layak tanpa membedakan status sosial, golongan dan asal daerah.Pendidikan dalam pandangan tradisional selama sekian dekade dipahami sebagai bentuk pelayanan sosial yang harus diberikan kepada masyarakat, dalam konteks ini pelayanan pendidikan dipandang sebagai bagian dari public service atau jasa layanan umum dari negara kepada masyarakat yang tidak memberikan dampak langsung bagi perekonomian masyarakat. Karenanya, pembangunan pendidikan tidak menarik untuk menjadi tema perhatian, artinya kedudukannya tidak mendapat perhatian yang menarik dalam gerak langkah pembangunan.Opini yang berkembang justru pembangunan sektor pendidikan hanyalah sektor yang bersifat memakan anggaran tanpa jelas manfaatnya (terutama sektor ekonomi). Pandangan demikian membawa orang pada keraguan bahkan ketidak-percayaan terhadap pembangunan sektor pendidikan sebagai pondasi bagi kemajuan pembangunan di segala sektor. Ketidak-yakinan ini terwujud dalam kecilnya komitmen anggaran untuk sektor pendidikan. Pengalokasian anggaran untuk sektor pendidikan dianggap buang-buang uang yang tidak bermanfat. Akibatnya aplikasi anggaran sektor pendidikanpun biasanya merupakan sisa setelah yang lain terlebih dahulu.Akan tetapi cara pandang ini sekarang sudah mulai tergeser dengan ditemukannya pemikiran dan bukti ilmiah akan peran dan fungsi vital pendidikan dalam memahami dan memposisikan manusia sebagai kekuatan utama sekaligus prasyarat bagi kemajuan pembangunan dalam berbagai sektor.
1.2.    Rumusan Masalah
1.2.1.    Bagaimana rumusan pendidikan sebagai social investment?
1.2.2.    Bagaimana rumusan pendidikan sebagai private invesment?
1.2.3.    Bagaimana mengukur social cost, Rate of Return, Net Income, Net Present Value, IRR

1.3.    Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan dari makalah ini adalah untuk:
1.    Mengetahui rumusan pendidikan sebagai social investment
2.    Mengetahui rumusan pendidikan sebagai private invesment
3.    Memahami social cost, Rate of Return, Net Income, Net Present Value, IRR dalam pendidikan.


BAB II
PEMBAHASAN


2.1.    Rumusan pendidikan sebagai social investment
Konsep pendidikan sebagai sebuah investasi (education as investment) telah berkembang secara pesat dan semakin diyakini oleh setiap negara bahwa pembangunan sektor pendidikan merupakan prasyarat kunci bagi pertumbuhan sektor-sektor pembangunan lainnya. Menurut Nurulfalik (2004), Konsep tentang investasi sumber daya manusia (human capital investment) yang dapat menunjang pertumbuhan ekonomi (economic growth), sebenarnya telah mulai dipikirkan sejak zaman Adam Smith (1776), Heinrich Von Thunen (1875) dan para teoritisi klasik lainnya sebelum abad ke-19 yang menekankan pentingnya investasi keterampilan manusia.
Pemikiran ilmiah ini baru mengambil tonggak penting pada tahun 1960-an ketika Theodore Schultz, yang merupakan peletak dasar teori human capital modern, berpidato dengan judul “Investment in Humman Capital” di hadapan The American Economic Association. Pesan utama dari pidato tersebut sederhananya adalah bahwa proses perolehan pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata-mata, akan tetapi juga merupakan suatu investasi.
Di negara-negara maju, pendidikan selain sebagai aspek konsumtif juga diyakini sebagai investasi modal manusia (human capital investment) dan menjadi “leading sektor” atau salah satu sektor utama. Oleh karena perhatian pemerintahnya terhadap pembangunan sektor ini sungguh-sungguh, misalnya komitmen politik anggaran sektor pendidikan tidak kalah dengan sektor lainnya, sehingga keberhasilan investasi pendidikan berkorelasi dengankemajuan pembangunan makronya.
Dalam hubungannya dengan biaya dan manfaat, pendidikan dapat dipandang sebagai salah satu bentuk investasi. Theodore W. Schultz menyatakan bahwa proses pengetahuan dan keterampilan melalui pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi semata, akan tetapi merupakan investasi (Fattah, 2002). Investasi dalam pendidikan itu bisa berbentuk investasi pribadi dan investasi sosial (Leslie dan Brinkmann, 1993).
Selanjutnya Analisis pendidikan sebagai investasi sosial ini penting dilakukan mengingat besarnya peranan pendidikan dalam memberikan nilai balik kepada investor bersangkutan. Seperti dikemukakan di atas, bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi tingkat produktivitasnya, yang pada ujungnya akan meningkatkan keuntungan ekonomi dan non-ekonomi yang diperolehnya. Semakin tinggi tingkat produktivitas pribadi secara individu, semakin meningkat pula tingkat produktivitas kolektif atau sosial. Oleh karena itu, pendidikan sebagai bentuk investasi sosial patut mendapat perhatian dan untuk itu perlu dibahas dalam konteks pembiayaan pendidikan, karena ini secara langsung bersangkut paut dengan kecermatan dalam menghitung nilai investasi agar mendapatkan keuntungan sesuai dengan yang diharapkan.

Manfaat Sosial
Dalam memformulasikan keputusan-keputusan investasi publik, para analis secara tipikal menggunakan social rate of return (nilai balik sosial) yang disingkat SRR, yaitu pengembalian kepada masyarakat atas apa yang mereka investasikan bagi pendidikan (Leslie dan Brinkman, 1993). Dalam menghitung SRR, disepakati bahwa biaya sosial adalah jumlah biaya pribadi dan biaya sosial, sedangkan manfaat sosial adalah hanya manfaat sosial saja (sebelum pajak). Rasionalisasi untuk memasukkan biaya pribadi dalam menghitung SRR adalah karena individu merupakan bagian dari masyarakat. Asumsinya adalah bahwa semua keuntungan sosial telah tercakup oleh lulusan perguruan tinggi, secara spesifik hanya melalui gaji yang dibayarkan kepada lulusan perguruan tinggi. Tentu saja, semua angka itu sangat sedikit bagi lulusan sekolah lanjutan (SMU).
Perhitungan biaya dan manfaat pribadi serta biaya dan manfaat sosial secara konseptual memang menyulitkan, sebab para analis menggunakan perbandingan nilai  balik pribadi dan sosial untuk membantah atau untuk melawan berbagai keputusan kebijakan, seperti membebankan biaya kepada masyarakat dan individu (Psacharopoulos, 1981; Witmer, 1983). Barangkali ini merupakan percampuran dari biaya pribadi, biaya sosial dan manfaatnya adalah mengapa individu  dan penentu kebijakan kadang-kadang merujuk nilai balik pribadi dalam menaksir investasi sosial. Setidak-tidaknya, di dalam SRR perhitungan konvensional uang publik (contohnya, uang digunakan dalam pembayaran pajak dan pembayaran khusus lainnya) yang dibelanjakan ditambahkan ke biaya-biaya pribadi untuk memperoleh biaya sosial. Tanpa penambahan ini, SRR hanya mengukur manfaat moneter pribadi dalam membayar pajak lebih banyak. Ada permasalahan praktis dan konseptual dengan analisis SRR konvensional (Leslie dan Brinkmann, 1993).
Secara tradisional, dalam formulasi kebijakan publik, tujuan analisis nilai balik (rate of return analyses) adalah untuk mencapai tingkat optimal dalam investasi pada pendidikan tinggi. Jika SRR tinggi, maka kesimpulannya adalah bahwa investasi sosial harus lebih besar. Jika tingkat nilai balik rendah, maka akan terjadi overinvestment (investasi yang berlebihan). Pada tahun-tahun terakhir, secara implisit tujuan baru ditambahkan untuk mengarahkan kebijakan publik. Tujuannya adalah untuk memperbaiki efisiensi dengan memaksimalkan nilai balik sosial (SRR). Adalah beralasan bahwa jika seseorang diharuskan membayar mahal untuk pendidikan tinggi. SRR akan naik dan efisiensi investasi publik akan menjadi baik. Karena IRR (internal rate of return) pribadi tinggi, sangat beralasan jika seseorang mempunyai keinginan untuk membayar lebih besar untuk biaya pendidikan tinggi. Karena IRR pribadi lebih tinggi daripada nilai balik sosial, sepantasnyalah mereka melakukan hal tersebut (Leslie dan Brinkmann, 1993)

2.2    Rumusan pendidikan sebagai private invesment
Dalam pelaksanaan pendidikan tentunya akan membutuhkan investasi, dan proses pendidikan dapat dipandang sebagai sarana investasi, akan memberikan implikasi secara ekonomi, melalui upaya pendidikan akan melahirkan tenaga kerja terdidik yang akan mengisiberbagai sektor pekerjaan, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi langsung terhadappertumbuhan pendapatan negara melalui peningkatan keterampilan dan kemampuan produksi daritenaga kerja. Data dari berbagai Negara menunjukan bahwa investasi pendidikan menunjukan tingkat keuntungan ekonomi cukup tinggi, ialah rata-rata 18,4%, 13,1% dan 10,9% (sosial rate of return) serta 29,1%, 18,1% dan 20,3% (private rate of return) masing-masing untuk Pendidikan dasar, menengah dan tinggi (Pascharopoulus, 1993). Dari pengalaman Negara industri maju, kontribusi tenaga kerja (SDM) dalam peningkatan produktivitas industri sangat menonjol atau paling tinggi dibandingkan dengan kontribusi factor-faktor produksi lain seperti modal dan teknologi. Kontribusi factor tenaga kerja di Korea dan Amerika Serikat adalah paling tinggi (40% dan 32%) dibandingkan dengan factor lain. Sedangkan kontribusi factor tenaga kerja di Jepang cukup menonjol (21%) yang ternyata sejajar dengan kontribusi factor modal dan teknologi (24% dan 22%). Data-data tersebut menunjukan bahwa secara rata-rata investasi pendidikan memberikan manfaat ataukeuntungan ekonomi yang cukup tinggi bagi peserta didik maupun masyarakat umumnya, sertamenunjukan pentingnya kualitas tenaga kerja atau sumber daya manusia dalam proses produksi.
Atas dasar pemikiran bahwa pendidikan sebagai prinsip investasi dalam rangka mendaya gunakan tenaga manusia dalam pembangunan. Maka dari itu, pendekatan return on in-vestment ini terletak pada seberapa jauh program-program pendidikan dapat menghasilkan lagi hasil yang bersifat produktif, atau apa yang ditanamkan dalam pendidikan, maka dalam hal hasilnyaharus diperhitungkan kembali. Maka analisis pendekatan ini pada dasarnya membandingkan antara manfaat biaya (cost efektiveness) dengan biaya (invest). Maka dari itu, terlebih dahulu perlu jugadiketahui aspek-aspek biaya dalam pendidikan, minimal dikategorikan dalam empat golongan, yaitu sebagai berikut.
2.2.1.    Biaya modal, terdiri dari unsur-unsur tanah, bangunan, perabot, dan peralatan.
2.2.2.    Biaya rutin, terdiri dari gaji dan tunjangan yang dibayar/disediakan kepada tenaga pengajardan petugas, ditambah biaya perlengkapan seperti buku pelajaran, alat tulis, dsb.
2.2.3.    Biaya persiapan tenaga pengajar, misalnya dalam menyelesaikan kursus persiapan pro-fessional seorang guru memperoleh keahlian tertentu yang memungkinkan ia menjalankan
2.2.4.    Biaya atas kesempatan yang hilang dipakai untuk pendidikan artinya selama dalampendidikan, seseorang mengorbankan pendapatan yang sebenarnya dapar diperolehseandainya tidak mengikuti program Pendidikan.

2.3    Mengukur social cost, Rate of Return, Net Income, Net Present Value, IRR dalam pendidikan
2.3.1.    Social cost
Biaya sosial merupakan biaya yang dikeluarkan oleh masyarakat untuk membiayai sekolah, termasuk di dalamnya mencakup biaya yang dikeluarkan keluarga secara perseorangan. Jadi biaya sosial adalah biaya pribadi ditambah biaya yang ditanggung oleh masyarakat. Namun tidak semua biaya sosial dapat dimasukkan ke dalam biaya pribadi. Biaya merupakan kerugian sosial yang ditanggung oleh masyarakat sebagai akibat dari investasi pendidikan, misalnya pengangguran terdidik atau dapat dikatakan bahwa biaya sosial merupakan kerugian yang ditanggung oleh masyarakat/orang tua murid setelah menyekolahkan anaknya hingga lulus, namun anaknya belum bekerja. Jadi dalam penelitian ini biaya pribadi dan biaya sosial tidak termasuk dalam perhitungan yang digunakan, karena kedua biaya tersebut merupakan biaya yang dikeluarkan/ menjadi tanggungan masing-masing orang tua siswa yang besarnya akan berbeda satu dengan yang lain.

2.3.2    Social rate of return
Sosial rate of return (nilai kembali bagi masyarakat) berhubungan dengan biaya dan keuntunganpendidikan untuk masyarakat secara keseluruhan dan bukan untuk peseorangan, artinya:
a)    Adanya seeorang yang menikmati keuntungan tersebut tidak mengurangi kemungkinanorang lain untuk menikmatinya juga.
b)    Tak seorang pun dapat dihindari menikmati manfaat/keuntungan tersebut terlepas apakahia ikut serta atau tidak dalam pembiayaan.
Sosial rate of return dari bidang pendidikan timbul dalam dua bentuk, yaitu:
a)    pendidikan meningkatkan produktivitas perekonomian sebagai keseluruhan, dengandemikian menciptakan kesempatan ekonomi yang lebih baik, menguntungkan baik bagimereka yang mengikuti pendidikan, yang sudah lama meninggalkan pendidikan maupunbagi yang tidak berkesempatan bersekolah.
b)    Dengan menciptakan suatu penduduk yang terdidik, maka sistem pemerintahan akan ikutlebih baik.

2.3.3    Net income
Net income atau Pendapatan Bersih adalah selisih positif dari total pendapatan (operasional dan non-operasional) dengan total biaya (operasional dan non- operasional) dalam satu periode.

2.3.4    Net present value
Net Present Value (NPV) yaitu nilai sekarang dari seluruh keuntungan yang akan diperolehdari suatu kegiatan investasi dikurangi dengan nilai sekarang dari seluruh biaya yang dikeluarkan.
2.3.5    Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return (IRR) yaitu suatu angka besaran (rate of discount) yang dapat menyamakan antara besarnya biaya dalam nilai sekarang yang diharapkan diperoleh dimasa depan sebagai hasil dari suatu investasi. Dalam perhitungan tingkat keuntungan dalam pendidikan, diantaranya:
1.    IRR lebih bersifat menyeluruh dan lebih dapat digeneralisir dalam lingkup yang lebih luas.
2.    IRR dalam analisis cost and benefit tidak perlu menggunakan asumsi tentang tingkat bungake dalam analisis sebagai syarat untuk menentukan tingkat keuntungan dari suatu investasi
IRR (r) perhitungannya adalah sebagai berikut:


Niai (r) ini sering disebut sebagai diskonto untuk manfaat masa depan dan nilai “penambah” untukbiaya yang telah dikeluarkan di masa lalu. Nilai (r) ini pertama-tama digunakan untuk menghitung IRR = (r) jika: C [0] = B [0] biaya dengan nilai sekarang (C [0]). Selanjutnya, (r) ini disimulasikan di dalam rumus B (0) sehinggamencapai nilai (r) tertentu yang dapat menyamakan B (0) dengan C (0) tadi.Dengan demikian, jika ingin menghitung IRR tamatan SMA ialah sebagai berikut.


BAB III
PENUTUP

3.1.    Kesimpulan
Dalam memformulasikan keputusan-keputusan investasi publik, para analis secara tipikal menggunakan social rate of return (nilai balik sosial) yang disingkat SRR, yaitu pengembalian kepada masyarakat atas apa yang mereka investasikan bagi pendidikan (Leslie dan Brinkman, 1993).
Aspek - aspek biaya dalam pendidikan, minimal dikategorikan dalam empat golongan, yaitu sebagai berikut; biaya modal, biaya rutin, biaya persiapan dan biaya atas kesempatan yang hilang. Sementara untuk mengukur investasi dalam Pendidikan dalam diukur dengan mengecek social cost, Rate of Return, Net Income, Net Present Value, IRR

3.2.    Saran
Investasi selalu dibutuhkan dalam setiap organisasi termasuk dalam lembaga pendidikan. Untuk itu pandai pandailah dalam berinvesati agar dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Penulis telah berusaha menyelesaikan makalah ini dengan sebaik- baiknya. Akan tetapi, penulis menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak kekurangan. Maka, penulis sangat mengharapkan saran terutama dari dosen kami dan juga para pembaca untuk membantu demi membangun kesempurnaan makalah ini.







DAFTAR PUSTAKA

Entri. 2015. Akuntansi Pendidikan. Senin, 17 September 2012. Diakses dari  http://dc-maria. blogspot.co.id/ pada tanggal 23 Maret 2020
Fattah, Nanang. 2008. Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_9-April_2008/Pembiayaan_Pendidikan_Landasan_Teori_dan_Studi_Empiris.pdf  diunduh tanggal 2 maret 2020
Gimin, 2015. akuntansi pendidikan (suatu pemikiran implementasi di sekolah), https://www.researchgate.net/publication/328478190_AKUNTANSI_PENDIDIKAN_Suatu_Pemikiran_Implementasi_di_Sekolah 23 Maret 2020
Kasful Anwar Us INVESTASI PENDIDIKAN (Suatu Fungsi untuk Pendidikan yang Bermutu), https://media.neliti.com/media/publications/56687-ID-investasi-pendidikan-suatu-fungsi-untuk.pdf diunduh pada tanggal 23 Maret 2020
Tris, Dodi. 2012. Referensi Akuntansi: Akuntansi dalam Dunia Pendidikan. Diakses dari http://referensiakuntansi.blogspot.co.id/2012/07/akuntansi-dalam-dunia-pendidikan.html  pada tanggal 23 Maret 2020
Zahir. 2015. Direct atau Indirect: Membuat Laporan Arus Kas. Diakses dari  http://zahiraccounting.com/id pada tanggal 23 Maret 2020
Masditou, 2017. Manajemen pembiayaan pendidikan menuju Pendidikan yang bermutu. Medan: Jurnal ANSIRU PAI V o l. 1 No. 2
http://pundi.or.id/2018/09/24/unit-cost-pendidikan-efisiensi-dan-efektifitas-pengelolaan-biaya-pendidikan/ diunduh tanggal 2 Maret 2020


You May Also Like

0 komentar