Membangun Filantropi Pendidikan

by - April 30, 2020

A. Pendahuluan

Kualitas sumberdaya manusia suatu negara akan selalu terkait dengan pendidikan dan faktor-faktor yang mendukung terlaksananya pendidikan. Setiap negara memiliki sistem pendidikan yang berbeda-beda, sehingga output sumberdaya manusianya pun berbeda-beda. Indonesia tergolong negara yang memiliki sumberdaya manusia yang rendah, hal ini dibuktikan survei yang dilakukan oleh PERC yang berbasis di Hongkong bahwa Indonesia menempati urutan ke-12 atau yang terburuk didaerah Asia. Biaya pendidikan yang semakin lama semakin mahal, tentunya hal ini akan memberatkan masyarakat yang tingkat ekonominya kurang atau kelas masyrakat rnenengah kebawah. Hal ini di karenakan pengeluaran yang tidak sebanding dengan pendapatan. Dan untuk masyarakat menengah kebawah yang memiliki citacita untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi terpaksa hams mengurangi biaya kebutuhan hidupnya, seperti biaya makan dan tak jarang banyak orang tua yang bekerja banting tulang demi mendapatkan biaya untuk bisa menyekolahkan anaknya.

Sementara dalam skala peradaban, pendidikan adalah kebutuhan dasar selain tentunya kesehatan. Kemampuan Negara dalam menghadirkan kelayakan pendidikan menjadi tolak ukur majunya sebuah bangsa dan Negara. Dan pendidikan yang dihadirkan bukan hanya dengan stempel atas nama Negara, tetapi semua stakeholder bangsa menjadi turut serta berperan di dalamnya.

Di dalam undang undangan dasar Republik ini menyebutkan bahwa pendidikan adalah hak dasar anak bangsa, sehingga pemerintahlah yang sangat bertanggung jawab atas keberadaan pedidikan. Namun demikian, dalam perkembangannya pendidikan mengalami akeselarasi dan sangat dinamis di negeri ini dengan bermunculannya peran masyarakat dalam membangun dan mengembangakan pendidikan.

Dilihat dari Bergama motifnya, seharusnya pendidikan itu tidak pernah boleh menjadi komoditas lain selain komoditas sosial dan budaya, pendidikan adalah bridge dan dapurnya peradaban. Terlepas kemudian banyak bermunculan sekolah sekolah yang dikelola oleh swasta dengan bangunan megah sistem pendidikannya di labeli internasional dengan biaya yang mahal tetap harus ada misi peradaban didalamnya bukan sekedar bisnis ansich.

B. Peran Masyarakat dan Dunia Usaha Dalam Pendidikan


Masyarakat merupakan kelompok sosial terbesar dalam suatu negara. Selain di dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah pendidikan juga dapat berlangsung didalam lingkungan masyarakat. Pendidikan di dalam lingkungan masyarakat tentunya berbeda dengan pendidikan yang terjadi pada lingkungan keluarga dan sekolah.

Kemudian dalam menata pendidikan kita akan menemukan dua masalah terbesar pendidikan Indonesia yaitu masalah akses dan kualitas. Akses merupakan kesempatan anggota masyarakat menikmati pendidikan, sementara kualitas, kesempatan anggota masyarakat menikmati pendidikan yang berkualitas. Belakangan persoalan ini semakin mengemuka dan menimbulkan gap yang kian besar. Ditengah tumbuhnya beragam sekolah yang membrand-kan dirinya sebagai sekolah berkualitas dengan point berkualitas yang berbeda tidak serta merta membuka keran akses bagi sebagian besar kelompok masyarakat.  Sehingga di sini di butuhkan peran serta masyarat dalam berbagai ruang untuk menghadirkan pendidikan yang dapat memecahkan masalah terbesar pendidikan sebagai mana yang dimaksud diatas.

Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari masyarakat serta akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi olehh tiga faktor pendukungnya, yaitu :


a.       Adanya kemauan

b.       Adanya kemampuan

c.       Adanya kesempatan


Selain itu, peran swasta juga memiliki arti yang sangat penting dalam menghadirkan dan memajukan dunia pendidikan, walaupun secara mandat penyelenggaraan pendidikan itu ada di tangan pemerintah. Dengan peran serta lembaga-lembaga terkait, tentunya dapat membantu meringankan beban pemerintah guna memajukan pendidikan di tanah air. Saat ini, tidak sedikit institusi yang berperan aktif memajukan pendidikan melalui kegiatan corporate social resposibilitiy (CSR).

Sebagai mana ungakapan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh ”Pendidikan merupakan tanggung jawab semua pihak. Mustahil jika pemerintah melaksanakan tugas untuk membangun dunia pendidikan sendirian karena pendidikan itu sangat kompleks. Kami sangat berterima kasih atas bantuan pihak-pihak yang telah membantu memajukan pendidikan di negeri ini,” (www.rakyatmerdekaonline.com)”


 C.  Filantropi Pendidikan (membanguan sekolah gratis unggulan untuk kalangan ekonomi lemah)


Sikap filantropi adalah sikap dasar yang dimiliki setiap manusia, di sekolah sekolah kita selalu mendapat informasi bahwa kita adalah mahluk sosial yang kehadirannya tidak bisa berdiri sendiri, manusia butuh orang lain, tolong menolong, sikap saling membantu adalah bagian dari sikap filantropi.


Dan sikap filantropi ini sudah ada sejak zaman dulu sebenarnya. Sebagai contoh adalah ketika para penguasa Mesir Kuno menetapkan tanah untuk dimanfaatkan para pemuka agama.

Sedangkan, orang-orang Yunani dan Romawi Kuno menyumbangkan harta benda mereka untuk perpustakaan dan pendidikan.

Sedangkan, salah satu media filantropi dalam Islam yang paling utama, antara lain, wakaf. Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford Dunia Islam Modern, ada tiga macam wakaf, yaitu wakaf keagamaan, wakaf derma (ini yang disebut sebagai filantropi), dan wakaf keluarga. Wakaf keagamaan contohnya adalah pembangunan Masjid Quba dan Masjid Nabawi.  (Rosita Budi Suryaningsih, filantropi-penopang-solidaritas)


Saat ini, ditengah menjamurnya dunia pendidikan yang dikelola oleh masyarakat dengan tawaran program, fasilitas, SDM yang berkualitas tentu menjadi daya tarik tersendiri, hanya saja semua itu tidak bisa di nikmati oleh seluruh elemen anak bangsa karena semuanya harus diganti dengan biaya yang mahal.


Sehingga dengan sikap filantropi dan semangat membangun peradaban dihadirkan sebuah sekolah dengan konsep unggul, gratis dan layanan yang menjamin setiap peserta didiknya dapat mengenyam pendidikan dengan standar baik fasilitas yang baik tanpa harus dipagari biaya. Sekolah tersebut adalah “SEKOLAH JUARA”


Dengan semangat yang dimiliki, saat ini hadir sebanyak 14 sekolah juara di seluruh Indonesia mulai dari SD, SMP dan SMK. Harapannya adalah hadrinya sekolah juara ini selain tentunya memfasilitasi masyarakat dari kalangan ekonomi kurang mampu, juga membantu pemerintah dalam menjalan program pendidikan yang berkualitas.


Diantara 14 sekolah juara yang ada, SMP Juara pekanbaru menjadi salah satu ikon sekolah gratis di kota pekanbaru. Sambutan masyarakat atas hadirnya sekolah ini di tahun 2012 sangat antusias dan memberikan harapan yang besar dapat menjadi salah satu trigger bagi majunya pendidikan di kota pekanbaru.



You May Also Like

0 komentar