PRODUKSI DAN FUNGSI BIAYA DALAM PENDIDIKAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Produksi adalah sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunyamanusia dengan alam.
Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. Kegiatan produksilah yang menghasikan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan barang dan jasa kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi.
Istilah biaya bisa diartikan dengan sebagai cara dan pengertian yang tepat akan berubah-ubah, tergantung pada bagaimana penggunaan biaya tersebut. Biasanya, biaya berkaitan dengan tingkat harga suatu barang yang harus dibayar. Jika kita membeli sebuah produk secara tunai dan kemudian segera menggunakan produk tersebut, maka tidak akan ada masalah yang timbul dalam pendefinisian dan pengukuran biaya produk tersebut.
Demikian pula halnya dalam dunia Pendidikan, proses produksi dan biaya dalam Pendidikan akan muncul sebagai sebuah proses kegiatan pelayanan dalam bisnis prosesnya. Yang akan muncul dalam penghitungan biaya pendidikan meliputi antara lain total cost yang mencakup fixed cost dan variable cost, unit cost per program studi atau per siswa/mahasiswa, average cost, dan marginal cost. Masing-masing jenis biaya tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda-beda.
Selain itu, Biaya pendidikan ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: besar kecilnya sebuah institusi pendidikan, jumlah siswa, tingkat gaji guru atau dosen yang disebabkan oleh bidang keahlian atau tingkat pendidikan, ratio siswa berbanding guru/dosen, kualifikasi guru, tingkat pertumbuhan penduduk (khususnya di negara berkembang), perubahan kebijakan dari penggajian/ pendapatan (revenue theory of cost).
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa dan bagaimana Produksi dan Fungsi Biaya?
2. Apa saja komponen biaya dalam Pendidikan?
3. Bagaimana caranya agar terjadi efisiensi biaya Pendidikan?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian produksi dan fungsinya dalam pendidikan.
2. Mengetahui apa saja komponen biaya dan fungsinya dalam pendidikan.
3. Mengetahui apa saja yang bisa dilakukan dalam efesiensi biaya Pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Produksi dan Fungsi Biaya
I. Produksi
1. Pengertian Produksi
Secara khusus, produksi adalah kegiatan untuk menciptakan atau menambah suatu barang atau jasa. Dalam istilah yang lebih luas dan lebih fundamental, produksi dapat diartikan sebagai berikut: pengubahan bahan-bahan dari sumber-sumber menjadi hasil yang diinginkan oleh konsumen. Hasil itu dapat berupa barang atau jasa.
Produksi juga sering dimakni sebagai sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi inisemenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusiadengan alam. kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. kegiatan produksilah yang menghasilkan barang dan jasa, kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti, begitu pula sebaliknya. Untuk menghasilkan barang dan jasa kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi.
Produksi tidak dapat dijauh dengan dunia pendidikan, dunia pendidikan dapat dipandang sebagai proses produksi yang berfungsi mengolah masukan (input) dengan menggunakan berbagai sumber daya untuk menghasilkan keluaran, berupa output dan outcomes.
Konsep produksi di bidang pendidikan sebenarnya tidak berbeda dengan konsep produksi di perusahaan manufaktur. Hanya berbeda dari a set of inputs (seperti waktu siswa dan pengajar, buku, jasa dari capital asset seperti bangunan sekolah) ada a set of outputs (seperti kemampuan kognitif, sosialisasi, ilmu baru). Transformasi input menjadi output ini jelas bukan tanpa biaya, baik dari sisi pengeluaran dalam bentuk uang (monetary exspenditures) maupun kesempatan yang dikorbankan agar transformasi ini terjadi padahal dapat dipakai untuk alternatif penggunaan yang lain (opportunity cost : seperti pendapatan yang seharusnya diperoleh bila siswa tidak melanjutkan pendidikan tinggi dan biaya modal dari durable assets).
Menurut Iskandar (2011), lembaga pendidikan sebagai produsen jasa pendidikan, seperti halnya pada bidang usaha lainnya menghadapi masalah yang sama, yaitu dalam hal biaya produksi, tetapi ada beberapa kesulitan khusus mengenai penerapan perhitungan biaya produksi. Produksi pendidikan diartikan sebagai unit pelayanan khusus (units of specific services). Unit output harus meliputi dimensi waktu, seperti tahun belajar atau jam belajar agar biaya-biaya dalam mempersiapkan output dibandingkan input. Input meliputi barang-barang yang dibeli dan orang-orang yang disewakan untuk menyediakan jasa. Di antara masukan (input) yang penting dalam sistem bidang pendidikan ruang, peralatan, buku, material, dan waktu para guru dan karyawan lain. Output menjadi hasil tambahan yang diakibatkan oleh suatu kenaikan biaya pendidikan yang diterima di sekolah, sepanjang masukan (input) menjadi bagian dari biaya kenaikan. Suatu unsur biaya tambahan, yang ada dalam fungsi produksi yang terdahulu, menjadi biaya kesempatan dari peserta didik (Iskandar, 2011).
Analisis mengenai biaya produksi pendidikan pada dasarnya menggunakan model teori “inputproses-output” di mana sekolah dipandang sebagai suatu sistem industri jasa. Menurut Blaug (1992) dan (Idochi dan Anwar, 2004), kita menghadapi suatu kelemahan yang merembes pada fungsi produksi pendidikan, bahwa hubungan antara input sekolah di satu pihak, dan output sekolah di lain pihak secara konvensional diukur melalui skors-skors achievement.” Dari berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembiayaan pendidikan sekolah dipengaruhi oleh: 1) kenaikan harga (rising prices); 2) perubahan relatif dalam gaji guru (teacher’s sallaries); 3) perubahan dalam populasi dan kenaikannya prosentasi anak di sekolah negeri; 4) meningkatnya standar pendidikan (educational standards); 5) meningkatnya usia anak yang meninggalkan sekolah; dan 6) meningkatnya tuntutan terhadap pendidikan lebih tinggi (higher education).
2. Fungsi produksi
Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu. Dalam teori produksi memberikan penjelasan tentang perilaku produsen tentang perilaku produsen dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan efesiensi produksinya. Fungsi produksi juga didefinisikan sebagai hubungan teknis antara input dengan output, yang mana hubungan ini menunjukkan output sebagai fungsi dari input.
Thomas (dalam Pidarta, 2007) menyatakan Fungsi produksi adalah hubungan antara output dengan input. Jadi, suatu organisasi pendidikan dikatakan produktif kalau paling sedikit memiliki keseimbangan antara output dengan input. Fungsi produksi dalam pendidikan bersumber dari buku Thomas (tt.), yang membagi fungsi produksi menjadi tiga macam, yaitu (1) fungsi produksi administrator, (2) fungsi produksi psikologi, dan (3) fungsi produksi ekonomi, diantaranya:
a. Fungsi Produksi Administator
Fungsi produksi administrator adalah pengaturan biaya agar tidak merugikan. Lembaga ini adalah wewenang administrator, baik administrator terdepan, madya, maupun tertinggi.
Fungsi produksi administrator yang dipandang input adalah segala sesuatu yang menjadi wahana dan proses pendidikan. Input yang dimaksud adalah:
1) Prasarana dan sarana belajar, termasuk ruangan kelas. Penilaian untuk dapat diuangkan adalah atas dasar luas dan kualitas bangunan.
2) Perlengkapan belajar di sekolah seperti media, alat peraga baik didalam kelas maupun di laboratorium, yang juga dihitung harganya dalam bentuk uang.
3) Buku-buku pelajaran dan bentuk material lainnya seperti film, disket dan sebagainya, juga dapat diuangkan.
4) Barang-barang habis dipakai seperti zat-zat kimia di laboratorium, kapur, kertas, alat tulis, dan sebagainya dihitung dalam wujud uang.
5) Waktu guru bekerja dan perangkat pegawai administrasi dalam memproses peserta didik, yang juga dinilai dengan uang.
Kelima jenis input di atas sesudah dinilai dalam bentuk uang kemudian dijumlahkan. Sementara itu yang dipandang sebagai output adalah berbagai bentuk layanan dalam memproses peserta didik seperti menghitung SKS dan lamanya peserta didik dalam belajar.
b. Fungsi Produksi dalam Psikologi
Adalah sama dengan input fungsi produksi administrator akan tetapi outputnya berbeda. Hasil output yang ada pada fungsi ini adalah hasil belajar siswa yang mencakup:
1) Peningkatan kepribadian,
2) Pengarahan dan pembentukan sikap,
3) Penguatan kemauan,
4) Penambahan pengetahuan,
5) Ilmu dan teknologi,
6) Penajaman pikiran,
7) Peningkatan estetika (keindahan), dan
8) Peningkatan keterampilan.
Suatu lembaga pendidikan dipandang berhasil dari segi fungsi produksi psikologi, kalau harga inputnya sama atau lebih kecil daripada harga outputnya. Indikator harga hanya dapat dicari dalam bentuk manfaatnya lulusan dimasyarakat serta kecocokannya dengan norma dan kondisi masyarakat.
c. Fungsi Produksi Ekonomi
Fungsi Produksi Ekonomi sebagai inputnya adalah semua biaya pendidikan seperti pada input fungsi produksi admnistrator, semua uang yang dikeluarkan untuk keperluan pendidikan yaitu uang saku, membeli buku dan sebagainya selama masa belajar dan uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah, tetapi tidak didapat sebab waktu tersebut dipakai untuk belajar atau kuliah. Sementara yang menjadi outputnya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat dan bekerja, manakala orang ini sudah bekerja sebelum belajar atau kuliah. Dan apabila ia belum pernah bekerja yang menjadi outputnya adalah gaji yang diterima setelah tamat dan bekerja.
Dalam menghitung harga-harga produksi ekonomi ada berbagai kesulitan yang menghadang yaitu:
a. Jika peserta didik tamat, belum tentu ia segera bekerja,
b. Selama menunggu untuk mendapatkan pekerjaannya maka ia memutuskan untuk bekerja seadanya dengan penghasilan yang tidak tetap.
c. Kalaupun lulusan membuat usaha sendiri dengan modal seadanya, penghasilan tiap bulan tidak mungkin tertatur.
d. Kalaupun lulusan bisa bekerja dengan penghasilan tetap tiap bulan sangat mungkin dia mencari tambahan penghasilan diluar untuk meningkatkan nafkahnya.
e. Bila bekerja disektor swasta, penghasilannya sulit dihitung sebab upah atau gaji perusahaan bervariasi.
Menurut Mutrofin (1996) menyatakan bahwa negara-negara maju hubungannya antara pendidikan dengan pembangunan ekonomi sangatlah jelas, dimana sistem pendidikan diorientasikan kepada kebutuhan ekonomi yang didasari pada teknologi tinggi, fleksibelitas dan mobilitas angkatan kerja. Dalam masa pembangunan dinegara kita sekarang ini pengembangan ekonomi mendapat tempat strategis, dengan munculnya Link and Match, kebijaksanaan ini meminta dunia pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga kerja yang sesuai dengan pasaran kerja, mencakup mutu, dan jumlah serta jenisnya.
II. Biaya
1. Pengertian Biaya
Pengertian biaya dalam ekonomi adalah pengorbanan yang di nyatakan dalam bentuk uang, diberikan secara rasional, melekat pada proses produksi, dan tidak dapat dihindarkan serta dapat di hitung sebelumnya. Bila tidak demikian maka pengeluaran dapat dikategorikan sebagai pemborosan, jika tidak melekat pada proses produksi, dapat dihindarkan, dan tidak dapat dihitung sebelumnya.
Pembiayaan pendidikan merupakan suatu konsep yang seharusnya ada dan tidak dapat dipahami tanpa mengkaji konsep-konsep yang mendasarinya. Pembiayaan pendidikan tidak lepas dari persoalan ekonomi pendidikan.
Johns dan Morphet mengemukakan bahwa "pendidikan itu mempunyai peranan vital terhadap ekonomi dan negara modern". Secara umum pembiayaan pendidikan adalah sebuah kompleksitas, yang didalamnya akan terdapat saling keterkaitan pada setiap komponennya, yang memiliki rentang yang bersifat mikro (satuan pendidikan) hingga yang makro (nasional), yang meliputi sumber-sumber pembiayaan pendidikan, sistem dan mekanisme pengalokasiannya, efektivitas dan efisiensi dalam penggunaanya, akuntabilitas hasilnya yang diukur dari perubahan-perubahan yang terjadi pada semua tataran, khususnya sekolah, dan permasalahan-pennasalahan yang mash terkait dengan pembiayaan pendidikan, sehingga diperlukan studi khusus untuk lebih spesifk mengenal pembiayaan pendidikan ini
2. Fungsi Biaya dalam Pendidikan
Fungsi biaya merupakan hubungan antar biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Fungsi biaya dapat digambarkan ke dalam kurva dan kurva biaya menggambarkan titik-titik kemungkinan besarnya biaya di berbagai tingkat produksi. Selain pengertian biaya tetap, biaya variabel dan biaya total, dalam konsep biaya dikenal pula pengertian biaya rata-rata (average cost) dan biaya marginal (marginal cost). Biaya rata-rata adalah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan tiap unit produk atau keluaran, merupakan hasil bagi biaya total terhadap jumlah keluaran yang dihasilkan.
Fungsi biaya dalam Pendidikan sebagai alat untuk perencanaan dan pengendalian juga merupakan alat bantu dalam mengarahkan suatu lembaga menempatkan organisasi dalam posisi yang kuat atau lemah. Biaya juga berfungsi sebagai tolak ukur keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasaran yang telah ditetapkan, disamping itu dapat juga dijadikan alat mempengaruhi atau memotivasi pimpinan dan karyawan untuk bertindak efisien dalam mencapai sasaran lembaga.
B. Komponen Produksi dan Biaya dalam Pendidikan
Biaya pendidikan adalah total biaya yang dikeluarkan baik oleh individu peserta didik, keluarga yang menyekolahkan anak, warga masyarakat perorangan, kelompok masyarakat, maupun yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk kelancaran pendidikan. Biaya pendidikan tidak sama dengan pengeluaran pendidikan, karena pertama belanja pendidikan mencakup tidak hanya pengeluaran untuk kegiatan rutin (seperti pembayaran untuk layanan guru yang diberikan selama waktu tertentu) namun juga pengeluaran pembangunan dengan istilah “kapital/modal” seperti: pengeluaran untuk bangunan dan perlengkapan, perbaikan dan renovasi bangunan tua dan lain-lain.
Didalam hubungan antar biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan terdapat perhitungan komponen biaya pendidikan diantaranya, yaitu:
a. Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang timbul akibat penggunaan sumber daya tetap dalam proses produksi. Komponen ini merupakan biaya yang tetap atau konstan jika adanya tindakan produksi atau meskipun lembaga pendidikan tidak berproduksi. Contoh biaya ini yaitu biaya tenaga kerja.
b. Biaya Variabel (Variable Cost)
Biaya variabel adalah jumlah biaya produksi yang berubah menurut tinggi rendahnya jumlah output yang akan dihasilkan. Komponen ini merupakan biaya per unit sifatnya dinamis tergantung dari tindakan volume produksinya. Jika produksi yang direncanakan meningkat berarti variabel cost/murid pasti akan meningkat. Contoh biaya ini yaitu biaya bahan baku dan biaya listrik.
c. Biaya Total (Total Cost)
Biaya Total adalah biaya tetap ditambah biaya variabel tergantung jumlah murid atau juga bisa dikatakan keseluruhan biaya yang terjadi pada produksi jangka pendek.
d. Biaya Rata (Average Cost)
Biaya Rata adalah biaya per unit dari barang yang diproduksi. Analisis harga dalam pendidikan bisa dilakukan dengan penghitungan total harga dalam pendidikan atau harga satuan (unit cost). Ada dua perbedaan cara menghitung unit cost, yakni harga rata-rata (average cost) dengan cara menghitung harga dengan jumlah total siswa (peserta didik) atau dengan jenjang pendidikan, sehingga penghitungan ini akan menjelaskan rata-[i]rata satuan harga per siswa. Yang kedua, jika harga dihitung per lulusan, maka akan nampak rata-rata satuan harga per lulusan. Pertimbangan lain dalam menghitung average cost misalnya dengan banyaknya jam atau waktu setiap siswa dalam mengikuti pendidikan.
e. Biaya Marginal (Marginal Cost)
Biaya Marginal adalah tambahan biaya yang terjadi karena ada penambahan unit costs/murid yand mendaftar.
C. Efesiensi Biaya Pendidikan
Menurut Windham, dalam Ace Suryadi ( 1999:110) dalam Efesiensi Pendidikan Uray Iskandar menyebutkan bahwa efiesiensi adalah sebagai suatu keadaan yang menunjukkan bahwa tingkat keluaran secara optimal dapat dihasilkan dengan menggunakan komposisi masukan yang minimal atau memelihara suatu tingkat keluaran tertentu dengan tingkat masukan yang tidak berubah atau yang lebih rendah
Konsep efisiensi selalu dikaitkan dengan efektivitas. Dimana dengan penggunaan waktu, tenaga dan biaya tertentu akan memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya. Uraian di atas menjelaskan bahwa tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggilah yang akan memungkinkan terselenggaranya pelayanan Pendidikan pada masyarakat secara memuaskan dengan samber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab Karena dari sudut pandang ekonomi, efektivitas merupakan hagian dari konsep efisiensi sebab tingkat efektivitas berkaitan erat dengan pencapaian tujuan relative terhadap harga yang dimunculkan. Dalam duniapendidikan, efisien dan efektif cenderung ditandai dengan pola penyebaran dan pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang sudah ditata secara efisien dengan pengelolaan yang efektif. Program pendidikan yang efektif dan efisien seharusnya mampu menciptakan keseirnbangan antara penyediaan dan kebutuhan akan sumber-sumber pendidikan dan dapat mencapai tujuan tanpa mengalami hambatan yang berarti. Efektif adalah terkait dengan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Garner (2004) mendefmisikan efektivitas lebih dalam lagi, karena menurutnya efektif tidak berhenti sampai tujuan tercapai tetapi sampai pada kualitatif hasil yang dikaitkan dengan pencapaian visi.
Manajemen pembiayaan dikatakan memenuhi prinsip efektif apabila kegiatan yang dilakukan dapat mengatur biaya aktivitas dalam rangka memcapai tujuan kualitatif outcomes sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Jadi dapat disimpulkan bahwa efektivitas biaya adalah kemampuan pembiayaan mencapai sasaran dan target sesuai dengan yang direncanakan. Ada beberapa prinsip dalam menilai efektivitas pembiayaan pendidikan, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Menilai efektivitas yang berkaitan dengan problem tujuan dm alat untuk memproses input menjadi output.
2. Sistem yang dibandingkan hams samd honlogen, misalnya tingkat pendidikan, kecakapan, social ekonomi dll.
3. Mempertimbangkan semua output, seperti jumlah siswa lulus dan kualitas kelulusan.
4. Korelasi diharapkan bersifat kualitas, hubungan antara alat proses dan output harus berkualitas.
Sementara itu, nilai efisiensi dikaji dari sudut kemampuan menggunakan biaya dengan baik dan tepat. Pembiayaan dikatakan efisien ketika pencapaian sasaran atau target diperoleh dengan pengorbanan yang lebih kecil atau dengan biaya yang minimum. Efisiensi berkaitan dengan kuantitas hasil suatu kegiatan. Efisiensi adalah perbandingan terbaik antara masukan (input) dan kuadran (output) atau antara daya dan hasil. Daya yang dimaksud meliputi tenaga, pikiran, waktu, biaya dan perbandingan tersebut dapat dilihat dari segi penggunaan waktu, tenaga dan biaya. Artinya adalah bahwa kegiatan pembiayaan pendidikan dapat dikatakan efisien kalau penggunaan waktu, tenaga dan biaya sekecil-kecilnya tapi dapat mencapai hasil yang ditetapkan. Jika dilihat dari segi hasil, kegiatan pembiayaan pendidikan dapat dikatakan efisien kalau dengan penggunaan waktu, tenaga dan biaya tertentu memberikan hasil sebanyak-banyaknya baik kuantitas maupun kualitasnya. Uraian di atas menjelaskan bahwa tingkat efisiensi dan efektivitas yang tinggilah yang akan memungkinkan terselenggaranya pelayanan Pendidikan pada masyarakat secara memuaskan dengan samber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.
Efisiensi dalam pembiayaan pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan konsep manajemen ilmiah oleh Coombs (Priyono, 2013). Menurutnya, pertambahan jumlah enrollmen yang demikian pesat berpengaruh terhadap pemanfaatan sumberdaya pendidikan. Oleh karena itu perlu dilakukan penekanan biaya pendidikan melalui berbagai jenis kebijakan antara lain: (1) Menurunkan biaya operasional, (2) Memberikan biaya prioritas anggaran terhadap komponen-komponen input yang langsung berkaitan dengan proses belajar mengajar, (3) Meningkatkan kapasistas pemakaian ruang kelas, fasilitas belajar, (4) Meningkatkan kualitas PBM, (5) Meningkatkan motivasi kerja guru, (6) Memperbaiki rasio guru murid.
D.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan dapat dipandang sebagai proses produksi yang berfungsi mengolah masukan (input) dengan menggunakan berbagai sumberdaya untuk menghasilkan keluaran, berupa output dan outcomes. Keluaran pendidikan tersebut dapat bernilai ekonomis dan non-ekonomis. Untuk itu nilai ekonomis pendidikan perlu dipahami oleh para pemangku kepentingan agar sumber daya yang terbatas dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Demikianlah maka perspektif ekonomi pendidikan pada prinsipnya dapat membantu individu, masyarakat dan negara di dalam memilih dan menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan pasar tenaga kerja.
Fungsi biaya merupakan hubungan antar biaya dengan jumlah produksi yang dihasilkan. Fungsi biaya dapat digambarkan ke dalam kurva dan kurva biaya menggambarkan titik-titik kemungkinan besarnya biaya di berbagai tingkat produksi. Selain pengertian biaya tetap, biaya variabel dan biaya total, dalam konsep biaya dikenal pula pengertian biaya rata-rata (average cost) dan biaya marginal (marginal cost).
Efisiensi adalah ketepatan cara dalam melakukan sesuatu dan kemampuan melaksanakan tugas dengan baik dan tepat tanpamembuang biaya, waktu, dan tenaga. Dengan demikian Efisiensi pembiayaan pendidikan adalah penggunaan biaya Pendidikan secara tepat sesuai dengan tingkat prioritas kebutuhan guna mewujudkan proses pembelaaran yang bermutu sehingga menghasilkan output yang berkualitas sesuai dengan kompetensi yang ditetapkan pada masing-masing jenjang dan jenis pendidikan.
B. SARAN
Pendidikan sebagai suatu sistem yang terbuka hendaknya harus melalui pernecanaan-perencanaan yang tepat dalam menghadapai tuntutan zaman. Selain itu sistem pendidikan juga harus lebih dinamis dan responsif. Pembiayaan terhadap pendidikan harus dibayar lebih mahal karena pendidikan adalah investasi dikarenakan perolehan keterampilan dan kemampuan akan menghasilkan tingkat balik yang sangat tinggi terhadap penghasilan seseorang
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Aziz. 2008. Ekonomi Islam Analisis Mikro dan Makro. Yogyakarta: Graha Ilmu melaui https://docplayer.info/77772906-Bab-i-pendahuluan-ilmu-2008-h-abdul-aziz-ekonomi-islam-analisis-mikro-dan-makro-yogyakarta-graha.html diunduh tanggal 3 Maret 2020
Anwar, M. Idochi. 1991. Biaya Pendidikan dan Metode Penetapan Biaya Pendidikan. Mimbar Pendidikan,
Fattah, Nanang. 2008. Pembiayaan Pendidikan: Landasan Teori dan Studi Empiris http://file.upi.edu/Direktori/JURNAL/PENDIDIKAN_DASAR/Nomor_9-April_2008/Pembiayaan_Pendidikan_Landasan_Teori_dan_Studi_Empiris.pdf diunduh tanggal 2 maret 2020
Ferdi W. P. 2013. Pembiayaan Pendidikan: Suatu Kajian Teoritis Financing of Education: A Theoritical Study: httpswww.researchgate.netpublication323635921_Pembiayaan_Pendidikan_Suatu_Kajian_Teoritis
Malayu Hasibuan. 2007. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara
Ferdy. 2005. Pembiayaan Pendidikan: Suatu Kajian Teoritis Financing of Education: A Theoritical Study. Diunduh pada tanggal 10 Maret 2020 https://jurnaldikbud.kemdikbud.go.id/index.php/jpnk/article/download/310/212
Kisbiyanto. 2014. Pengefektifan Manajemen Pembiayaan Pendidikan. STAIN Kudus. Diunduh pada tanggal 10 Maret 2020 dari http://docplayer.info/42412813-Pengefektifan-manajemen-pembiayaan-pendidikan.html
Usman, Husaini. 2013. Manajemen, Praktik, dan Riset Pendidikan. Bumi Aksara
Putri, Ummul Hanifah Putri. Efektivitas dan Efisiensi Pembiayaan Pendidikan, jurnal https://mfr.osf.io/export?format=pdf&url=https%3A//files.osf.io/v1/resources/yg3an/providers/osfstorage/5d97788c7aae03000d524040%3Fformat%3Dpdf%26action%3Ddownload%26direct%26version%3D1 diunduh tanggal 10 Maret 2020


0 komentar